STAI Hikmatul Fadhillah Medan Gelar Studium General dan Tasyakuran Peresmian Gedung Baru
Medan, 16 Oktober 2025 — Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Hikmatul Fadhillah Medan menggelar Studium General dan Tasyakuran yang menghadirkan Prof. Dr. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A., sebagai narasumber utama. Kegiatan yang bertema “Maqashid Kepemimpinan: Mengembangkan Kepribadian yang Positif dan Produktif di Lingkungan Civitas Akademika” itu berlangsung di kampus STAI Hikmatul Fadhillah, Jl. Jermal VII No. 71 Medan, sekaligus menjadi momentum peresmian gedung baru yang diharapkan memperkuat kualitas akademik dan semangat kebersamaan sivitas kampus.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua STAI Hikmatul Fadhillah, Mujahidah Ulya, S.H., M.Kn., menyampaikan bahwa semangat pendirian lembaga ini telah tumbuh sejak awal berdirinya lebih dari dua dekade lalu. “Tekad STAI Hikmatul Fadhillah sudah terpatri lebih dari 20 tahun lalu untuk melahirkan alumni guru-guru peradaban sebagaimana jurusan PGMI, PAI, PIAUD, dan MPI,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) yang dimiliki STAI Hikmatul Fadhillah merupakan salah satu yang tertua di Sumatera Utara, dan telah menghasilkan banyak tenaga pendidik yang kini berkiprah sebagai guru maupun kepala sekolah di berbagai daerah.
Apresiasi atas kontribusi kampus tersebut juga datang dari Muhammad Hasan Nasution, M.H., perwakilan Kopertais Wilayah IX Sumatera Utara. Dalam sambutannya, ia menilai bahwa kiprah STAI Hikmatul Fadhillah telah melampaui ekspektasi sebagai lembaga pendidikan Islam. “Kami merasa bangga, dan tidak ada yang meragukan kompetensi alumni Hikmatul Fadhillah. Karena sistem pendidikannya luar biasa. Terbukti kampus ini sudah berdiri lebih dari 20 tahun,” ucapnya. Pandangan itu menegaskan bahwa keberhasilan kampus tidak hanya diukur dari usia berdiri, tetapi dari konsistensi dalam menjaga mutu dan etika akademik.

Ketua STAI Hikmatul Fadhillah, Hj. Hikmatul Fadhillah, S.H., M.M., menyampaikan bahwa Yayasan Pendidikan Islam Hikmatul Fadhillah telah berkembang pesat dalam tiga dekade terakhir. “Sekarang sudah ada TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, sampai pendidikan lansia. Ini semua berkah keikhlasan untuk mengabdi di dunia pendidikan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tujuan utama lembaga ini sederhana namun fundamental, yaitu melahirkan pendidik peradaban yang bernafaskan Islam dan memiliki semangat pengabdian. Dalam pesannya kepada mahasiswa, Umi—sapaan akrab Ketua STAI—menekankan pentingnya disiplin ibadah. “Kunci kesuksesan itu jangan tinggalkan salat. Mudah-mudahan mahasiswa bisa mengamalkan itu, dan yang lain mengikuti,” ucapnya.
Sementara itu, narasumber utama Studium General, Prof. Dr. Muhammad Syukri Albani Nasution, M.A., memaparkan enam poin penting tentang maqashid kepemimpinan yang menekankan keseimbangan antara potensi pribadi, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.

Poin pertama, menurutnya, adalah improvisasi dan diferensiasi. “Anda harus diingat orang sebagai apa. Pemimpin itu tidak boleh tenggelam di tengah keramaian. Harus punya nilai pembeda yang menunjukkan karakter dan arah berpikir,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berimprovisasi bukan hanya soal kreativitas, melainkan keberanian mengambil keputusan dengan identitas yang jelas. Seorang pemimpin, katanya, tidak boleh larut dalam arus, tetapi harus mampu menjadi penentu arah yang bermanfaat bagi lingkungannya.
Poin kedua yang disampaikan adalah pentingnya output dan outcome. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari hasil yang tampak, tetapi juga dari dampak jangka panjang terhadap orang lain. “Kita sering puas dengan hasil langsung, padahal yang lebih penting adalah perubahan perilaku, karakter, dan nilai yang tertanam,” tutur Prof. Syukri. Ia mendorong mahasiswa untuk menilai setiap pencapaian bukan dari seberapa besar hasil yang diperoleh, tetapi dari seberapa luas pengaruhnya terhadap kebaikan bersama.
Selanjutnya, poin ketiga adalah ketauhidan. Menurutnya, semua aktivitas kepemimpinan harus berakar pada kesadaran bahwa manusia bergantung kepada Allah SWT. “Kalau kita merasa kecil, Tuhan akan mengecilkan kita. Sebagaimana hadis, Ana inda zanni ‘abdi bi — Aku sesuai prasangka hamba-Ku terhadap-Ku,” jelasnya. Ia menekankan bahwa kepercayaan diri seorang pemimpin tumbuh dari keyakinan spiritual, bukan ambisi pribadi. Seorang pemimpin yang memahami ketauhidan, tambahnya, akan menjalankan tanggung jawab dengan ikhlas dan penuh keberanian.
Poin keempat adalah menjadikan kampus sebagai rumah intelektual. Ia berpesan agar seluruh civitas akademika memandang kampus bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bersama. “Jadikan STAI ini sebagai rumah Anda dan tempat Anda menyalin silaturahmi,” katanya. Menurutnya, kampus yang sehat adalah kampus yang memperkuat rasa kekeluargaan dan menghargai perbedaan gagasan. Lingkungan seperti itu akan melahirkan pemimpin yang terbuka, adaptif, dan berjiwa sosial.
Poin kelima adalah salat sebagai energi hidup. Prof. Syukri menegaskan bahwa salat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sumber kekuatan batin yang menumbuhkan disiplin, konsistensi, dan ketenangan. “Salat itu bukan rutinitas, melainkan sumber energi. Dari sana muncul ketenangan berpikir dan kejernihan mengambil keputusan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa salat melatih manusia untuk hadir secara sadar di hadapan Tuhan, dan kesadaran itu akan membentuk kepribadian yang teguh dan tidak mudah goyah oleh tekanan duniawi.
Terakhir, poin keenam yang disampaikan adalah perbaikan satu persen setiap hari. Ia menyebut prinsip ini sebagai kunci kemajuan yang realistis. “Perbaikan tidak harus besar, cukup satu persen setiap hari bersama-sama,” tuturnya. Prinsip itu, katanya, mengajarkan bahwa kemajuan lembaga atau individu hanya dapat dicapai melalui konsistensi kecil yang terus dilakukan tanpa henti. Ia mengingatkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari komitmen kecil yang dijaga setiap hari.
Acara Studium General ini menjadi momentum penting bagi STAI Hikmatul Fadhillah untuk menegaskan identitasnya sebagai kampus yang memadukan nilai keilmuan dan spiritualitas. Semangat keislaman berpadu dengan etos profesionalisme, menciptakan suasana akademik yang produktif dan bernilai ibadah.
Puncak kegiatan ditandai dengan pemotongan pita oleh Ketua STAI, Hj. Hikmatul Fadhillah, bersama jajaran pimpinan kampus, dosen, dan narasumber sebagai simbol peresmian gedung baru STAI Hikmatul Fadhillah. Gedung tersebut diharapkan menjadi pusat pengembangan ilmu dan karakter bagi mahasiswa, sekaligus menambah fasilitas kampus untuk mendukung kegiatan akademik dan nonakademik. Potongan pita itu turut pula melambangkan semangat baru untuk terus tumbuh sebagai lembaga pendidikan Islam yang berdaya saing dan berorientasi pada kemaslahatan umat. (ATJ).
Komentar Terbaru